Berita Lagu puisi cerpen novel buku film profil

Rabu, 29 September 2010

Melihatnya Tersenyum, Itu Sudah Cukup

Catatan  Perjalanan Sang Sukarelawan
Naskah &  Foto by: adji kembara


Jumat dini hari, 27 Maret 2009 lalu, Situ Gintung di Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten murka. Sewaktu mendengar berita itu kali pertama aku pikir cuma jebol biasa. Tapi setelah dapat info dari teman wartawan bahwa bencana itu nyaris seperti tsunami kecil aku kaget dan tak menyangka. Rencananya Jumat sore aku mau ke sana tapi karena masih liputan akhirnya urung.

Malamnya rekanku SMS kalau  rumahnya si-A dijadikan posko. Mendenggar kabar itu aku bangga, ternyata ada rekan yang cepat tanggap dan bersedia menjadikan rumahnya yang kebetulan berlokasi tak jauh dari bencana sebagai posko. Tanpa pikir panjang aku langsung membalas SMS itu menanyakan bantuan apa yang dibutuhkan. Setelah mendapat balasan aku kembali bilang, besok Sabtu siang aku langsung ke rumah si-A.

Aku segera memberi kabar beberapa temanku dengan maksud untuk mengajak mengalang dana untuk membantu korban bencana itu. Beberapa teman bilang sudah mentransfer ke rekening TV swasta Ada juga yang bilang datang langsung ke lokasi dan banyak pula yang bilang tidak bisa. Bagiku itu tidak masalah yang penting sudah memberi kabar dan mengajaknya.

Sabtu pagi aku melihat berita di TV dulu untuk mengetahui apa sebenarnya dibutuhkan para korban bencana. Ternyata salah satu TV mengatakan masyarakat yang terkena bencana membutuhkan obat-obatan, pakaian dalam dan pakaian layak pakai serta air bersih untuk cuci dan mandi.

Selepas itu aku segera ke Pasar Tanah Abang untuk membeli sejumlah obatan-obatan, pakaian dalam perempuan dewasa dan anak-anak serta kaos oblong putih masing-masing satu lusin.  Kemudian bergegas ke Situ Gintung lokasi dengan bus 102 dari Tanahabang. Saat naik bus,  si-A mengabarkan bahwa dia harus kerja berangkat pukul sebelas siang. Bantuan bisa langsung ke posko Universitas Muhamadiah Jakarta (UMJ) atau bisa ke rumahnya. Aku balas, lagi on the way dan akan langsung ke rumahnya.

Setibanya di pasar Jumat menuju UMJ, jalan macet total. Banyak penumpang yang tak tahan karena panas lalu turun dan berjalan kaki. Saat melintasi jembatan kali pesanggerahan yang merupakan aliran air dari Situ Gintung, sejumlah kendaraan motor dengan penumpang turun menyaksikan Tim SAR yang sedang menyisir untuk mencari korban yang mungkin saja hanyut terbawa arus dari luapan air akibat jebolnya tanggul Situ Gintung.

Aku hampir saya menyerah lantaran panas dan gerah di dalam bus. Tapi niatku sudah bulat. Kemacetan semakin menjadi saat bus mendekati UMJ dan terus berlanjut hingga Situ Gintung. Setibanya di Situ Gintung gerimis turun. Sewaktu turun salah seorang temanku sudah menunggu di pertigaan. Dia mengendarai sepeda motor. Aku bilang tunggu saja di situ aku mau kasih bantuan ke posko. Aku segera langsung menuju rumah Si-A. Di sana kutemui suami si-A dan si gadis imut, buah hati si-A. Usai menyerahkan bantuan aku segera pamit.

Hujan deras turun. Aku dan temanku mencari makan siang dulu di sebuah warung yang menjual sop dan sate kambing. Hujan-hujan gini sepertinya enak menyantap semangkuk sop kambing. Dan pilihanku ternyata benar. Meski sebenarnya sop kambing itu tidak begitu istimewa namun cukup menganjal perut yang sudah kosong sejak pagi.

Selepas lunch, aku dan temanku mensurvei lokasi. Ternyata benar apa yang dibilang si-A, pintu masuk ke lokasi bencana ditutup. Letak tanggul Situ Gintung yang dibangun tahun 1933 itu berjarak sekitar 100 meter dari jalan raya. Longsorannya  bisa dilihat dari  balik deretan ruko dan rumah makan di sepanjang jalan utama. Oleh karenanya masyarakat yang sedang melintas di jalan tersebut dengan mudah bisa melihat lokasi  jadi ikut-ikutan mampir dan melihat bencana itu.

Aku segera mengajak temanku mencari pintu masuk lainnya. Ternyata siang itu ratusan orang atau bahkan ribuan orang terus berdatangan ke lokasi untuk menyaksikan kondisi bencana itu. Antusias masyarakat Jakarta dan sekitar yang ingin melihat ke lokasi sudah berlangsung sejak bencana tersebut ditayangkan televisi. Beberapa orang yang aku temui mengaku penasaran ingin menyaksikan langsung ke lokasi. “Saya lihat beritanya di TV jadi penasaran kayak apa tsunami kecil itu. Mumpung lokasinya nggak jauh dari Jakarta,” kata Wati (35) yang datang bersama anak dan suaminya dengan sepeda motor.

Setibanya di lokasi aku melihat sebuah masjid yang masih kokoh berdiri. Lalu memotretnya termasuk tingkah laku masyarakat yang datang hari itu. “Kayaknya lebih banyak masyarakat daripada sukarelawan yang datang,” kata rekannya. Dan pengamatannya itu ternyata memang benar.

Hujan kembali turun dengan derasnya. Masyarakat yang datang tetap bertahan di tempat. Ada yang berteduh di masjid tersebut, banyak juga yang main hujan-hujanan. Entah apa yang mereka cari dan inginkan pikirku. Yang jelas keberadaan mereka sungguh membuat suasana lokasi bencana tambah semraut.

Saat hujan turun aku sempatkan ke posko Front Pembela Islam di Masjid Jabalur Rahmah yang masih berdiri kokoh meskipun deretan rumah di sekitarnya sudah rata terkena terjangan luapan air. Masjid ini diresmikan oleh seorang berdarah Aceh H. Teuku Abdullah Laksama, 26 Mei 2007. Aku dan rekanku ikut membantu mengangkut bantuan yang datang. Setelah itu aku beralih ke posko lain sekalian mencari data.

Setelah hujan reda aku dan rekanku menyusuri lokasi bencana dari mulai tanggul yang sudah jebol dan menyisakan longsoran terjal dan dalam, sampai ke UMJ. Lumpur dan cipratan air keruh sudah mengotori sandal lapangan, celana dan kaosku. Tapi itu bukan soal. Sebelum berangkat aku sudah menyiapkan mental, fisik dan tentu saja pakaian pengganti. Bahkan aku bawa raincoat dan payung segala ntuk mengantisipasi hujan. Sementara temanku basah kuyup tapi dia tetap semangat.

Sepanjang penyusuran aku menemukan bangkai hewan seperti ikan dan bau busuk yang mungkin saja mayat orang atau hewan yang tertimbun lumpur dalam. Belum lagi bermacam rongsokan bekas perabotan dan puing-puing rumah. Banyak pula aku temui masyarakat yang sengaja datang ke lokasi untuk mengambil gambar atau melihat bekas bencana itu. Keberadaan mereka sangat menganggu para aparat keamanan atau sukarelawan yang sedang bekerja membersihkan puing atau mencari korban yang mungkin tertimbun.

Jelang sore aku dan rekanku sampai di kampus UMJ. Beberapa bagian kampus rusak terkena terjangan air yang meluap. Di sana sejumlah posko bantuan didirikan untuk menolong korban termasuk sejumlah tenaga medis dan beberapa media yang sedang meliput.

Secara keseluruhan satu hari pascabencana, kondisi di lokasi kejadian masih semraut dan berantakan. Kondisi kian dipersulit dengan hadirnya masyarakat yang datang dari sekitar lokasi bahkan dari luar daerah.

Aku dan rekanku beristirihat di sebuah warteg di samping UMJ persis di depan jalan raya. Pemilik warteg mengaku senang karena dagangannya ludes karena banyak pengunjung yang datang termasuk sukarelawan yang memborong. Di satu sisi bencana membawa luka, tapi nyatanya dipihak lain justru membawa berkah.

Saat istirahat sejenak, terbayang kembali Masjid Jablur Rahmah yang masih berdiri gagah. Hadir rasa takjub. Bagaimana tidak, masjid yang berada agak menjorok ke aliran Situ Gintung dan jaraknya sekitar 100 meter dari tanggul yang jebol itu tidak hancur diterjang bah  dasyat. Fenomena itu membuat masjid ini menjadi perbincangan sekaligus pusat tontonan warga yang berdatangan, selain tanggul Situ Gintung yang sudah jebol dan menyisakan longsoran besar di kiri kanannya.

Masih banyak masyarakat yang mengabadikan masjid tersebut dengan kamera maupun handycamnya. “Aneh ya kayak masjid di Banda Aceh aja yang tetap berdiri meski diterjang tsunami hebat,” kata Amir (30) warga Bekasi yang datang jauh-jauh hanya untuk melihat dan memotret masjid itu dengan kamera ponselnya.

Keajaiban itulah yang membuat banyak orang menyebut bencana ini tsunami kecil di tanah Jawa itu  dan menyamakannya meski dalam skala kecil. Selain sebuah masjid yang masih berdiri kokoh. Jumlah korbannya pun tak disangka-sangka mencapai 100 lebih orang tewas dan sedikitnya 300 rumah luluh lantah.

***

Sabtu (28/3/2009) seharian aku luangkan waktu untuk mensurvei lokasi bencana Situ Gintung. Memang belum banyak yang saya perbuat. Tapi paling tidak aku mendapat gambaran bahwa ternyata masih begitu buruk pegelolaan bencana di negeri ini.

Rupanya bencana tsunami di Aceh beberapa tahun lalu belum juga menjadi pembelajaran bagaimana mengelola bencana secara baik, pofesional, dan cepat teratasi. Bencana seolah menjadi sebuah obyek tontonan warga dalam balutan suka duka atau bahkan mungkin suka cita sebagaimana pernah terjadi pascagempa di Yogyakarata, semburan lumpur di Sidoharjo dan kini jebolnya tanggul Situ Gintung sehingga kian memparah situasi.

Seharusnya pemerintah  bertindak cepat, dibantu dengan pihak keamanan,  sukarelawan dan tenaga profesional untuk membentuk satu komando yang terorganisir sebelum situasi semakin semaraut atau sebelum timbul korban baru.

Tapi banyak juga segelincir orang yang memang tulus meluangkan waktu, tenaga atau bahkan hartanya untuk membantu korban. Aku merasa beruntung masih bisa meluangkan waktu untuk itu, meski mungkin tidak seintens saat dulu. 


Belasan tahun lalu aku beruntung mengikuti kegiatan kemanusiaan tanpa embel-embel uang, partai, dan lainnya. Sewaktu ada musibah hilangnya 6 pendaki gunung di Gunung Salak, aku dan beberapa rekan ikut melakukan SAR begitu juga saat sejumlah pendaki hilang di Gunung Gede serta SAR ke Gunung Slamet dimana 1 rekanku dari UKI tewas dengan sejumlah temannya. Ketiga kegiatan kemanusian itu menempaku bagaimana menjadi seorang sukarelawan dan juga tim SAR.  

Namun yang paling berkesan saat aku menjadi tim penolong banjir besar yang melanda Jakarta hingga sebuah koran nasional menulis headline-nya dengan judul “Danau Raksasa Itu Bernama Jakarta”. Ketika itu aku masih bekerja di Majalah Krakatau di Pejaten. Kebetulan bosku merespon usulanku untuk membuat posko relawan banjir. Bosku meminta bantuan pasukan marinir dan kopasus.

Selama dua minggu aku keliling dengan tim kopasus naik tronton dan kemudian mengarungi banjir di sejumlah titik dengan perahu karet dari Marinir. Setiap hari aku bertugas menyalurkan bantuan ke sejumlah titik langsung ke masyarakat yang tertimpa musibah lewat Ketua RT atau RW-nya. Kepemimpinanku teruji di sana. Bagaimana aku menerobos wilayah yang sulit bersama beberapa prajurit kopasus. Alhamdulillah cara kerjaku ketika itu mendapat pujian mereka termasuk bosku.

Sampai kini, beberapa orang kopasus dan marinir yang membantu masih saling komunikasi. Bahkan beberapa bilang kalau ada apa-apa jangan segan-segan bilang. Tapi aku tidak pernah memanfaatkan perkenalanku itu sampai kini. Karena memang bukan itu tujuanku.

Berbekal pengalaman itu, akupun memberanikan diri menjadi sukarelawan di Aceh saat tsunami dasyat melanda. Di sana aku banyak temukan sukarelawan yang justru tidak siap menjadi sukarelawan. Akhirnya mereka justru merepotkan korban. Banyak pula sularelawan yang memanfaatkan bencana itu untuk keuntungan sendiri.

Selama seminggu di Banda Aceh aku mendapat pembelajaran lagi, meski harus cuti kerja saat itu. Dan pascatsunami, tepatnya 2007 lalu aku kembali ke Aceh tapi ini urusan liputan. Setibanya di sana aku terkenang masa sulit sewaktu menjadi relawan tapi ada bangga di hati bisa berbuat dan terjun langsung meski hanya sebentar.

Ketika terjadi gempa di Yogyakarta. Sebenarnya ingin sekali terjun menjadi sukarelawan tapi karena kerjaan akhirnya aku cuma mengirimkan bantuan yang terkumpul bersama rekan-rekanku. Tapi pascagempa, aku beberapa kali ke Jogja untuk melihat dan sekaligus menulis kondisinya terlebih obyek-obyek wisata utamanya dengan tujuan untuk menarik kembali wisnus dan wisman untuk berwisata ke Jogja lagi. Hal yang sama aku lakukan pasca terjadi semburan lumpur di Sidoharjo, Jatim.

Andai aku punya sayap atau bisa menghilang, rasanya aku ingin mendatangi semua lokasi bencana baik sesaat terjadi maupun sesudahnya, saat masa recovery bencana. Termasuk ke lokasi pengungsian korban letusan Gunung Sinabung di Tana Karo, Sumut, dan Banjir di Cienteng, Kabupaten Bandung yang belum lama terjadi. Sayangnya...keinginan  itu tak terwujud.

Bagiku dengan menolong sesama yang sedang tertimpa bencana bisa menyadarkan diri sekaligus mengikis egois. Semampuku..sebisaku...sesuai keahlianku. Aku tak berharap dengan begitu dosa-dosa masa lalu akan juga terkikis. Bagiku melihat korban bencana tersenyum, itu sudah cukup.

Sepulang dari Situ Gintung, tercipta sebuah lagu berjudul “Tersenyumlah” yang kupersembahkan buat mereka yang menjadi korban. Tetaplah tersenyum, tawakal, dan selalu bersyukur kepada-Nya. Moga catatan dan lirik lagu ini menggugah kita untuk senantiasa berbagi dengan tulus dan dengan cara yang baik.

***

Tersenyumlah
Lirik & Lagu by: adji kembara

* Tersenyumlah dalam menghadapi sgala 
   Problema hidup yang datang menghantam
   Hadapilah dengan penuh keikhlasan
   Musibah pasti ada hikmahnya

Reff:
Berbahagialah hati bila selalu damai
Bersyukurlah pada yang Esa
Atas sgala karunia-Nya

** Hidup ini memang penuh tanda tanya
     Kadang bencana datang tak terduga
     Bulatkan niat, jangan sampai menyerah
     Jalani dengan hati berani

Back to: Reff

***The end***

2 komentar:

  1. Kok ngak konsisten tulisannya, semuanya ada tulisan si "a" tapi nyempil nama sissy..hehe

    BalasHapus
  2. sudah direvisi...trims atas kejelianmu..:)

    BalasHapus